Luwu Utara, Beritasidrap.com – Banjir yang merendam sebagian desa Kecamatan Malangke dan Malbar Kabupaten Luwu Utara, belum sepenuhnya surut hingga Sabtu,(5/4/2025).
Sudah setahun warga di dua kecamatan di Luwu Utara (Lutra) terendam banjir.
Kecamatan Malangke dan Malangke Barat (Malbar), Luwu Utara harus terus merasakan terendam banjir selama setahun terakhir.
Demikian disampaikan Usman yang merupakan warga Balubu Desa Pattimang, Kecamatan Malangke, Luwu Utara kepada beritasidrap.com saat ditemui.
“Ada dua desa yang terendam, Desa Pattimang Kecamatan Malangke dan Desa Arusu Kecamatan Malangke Barat. Airnya ini dari dua sungai, Masamba dan Baliase,” kata Semmang panggilan akrab Usman
Semmang juga menyampaikan banjir tersebut sudah merendam jalan dan pemukiman warga sejak setahun lebih yang lalu.
“Iya sudah satu tahun lebih terendam banjir, biar tidak hujan tetap banjir karena ini banjir kiriman,” tambahnya.
Akibatnya, masyarakat yang ingin melintas di Jalan Pattimang atau Jalan Poros Malangke – Masamba yang kini terendam banjir harus menggunakan jasa kendaraan Dompeng.
Kendaraan rakitan (Dompeng) membawa kendaraan roda dua menyeberangi banjir, masyarakat harus membayar jasa sebesar Rp 25 ribu untuk satu unit motor.
Sementara masyarakat tanpa kendaraan tidak dikenakan biaya atau gratis.
Meski terdapat jalan alternatif lain untuk menuju Masamba, menurut Semmang jalan tersebut sangat jauh dan satu jalan tani sempit juga sudah terendam banjir.
Semmang panggilan Usman mengungkapkan bahwa saat ini kondisi warga sudah pasrah. Sebab air yang merendam masih belum surut sepenuhnya.
Bahkan dirinya sempat menyinggung, warga sudah mulai bosan berharap kepada pemerintah untuk mengentaskan permasalah banjir, terutama di desanya.
“Iya sangat bosan. Mungkin harus pemerintah lebih memperhatikan lagi banjir ini, karena sekarang se-kecamatan Malangke hampir semuanya terendam,”
Pantauan beritasidrap.com, kedalaman air yang bervariasi mulai dari setinggi betis orang dewasa hingga 1 meter, sejumlah pengendara mobil lebih memilih jalan alternatif sejauh 5,5 Km ( Balakala) dan jalan Tani ( Kambisa-Belawa ) yang sempit.
Bahkan ada yang nekat melalui banjir tersebut dan mengakibatkan kendaraan mereka mogok serta sejak selama setahun lebih bantuan yang diterima warga dari Pemerintah sangat minim.
Warga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini dengan segera.
(ALji)