Seniman Sidrap Tampil di Pentas “I La Galigo” 2019 di Jakarta

oleh

JAKARTA – Siapa tidak bangga tampil di ajang seni berkelas dunia. Seperti itulah gambaran suasana hati, seniman asal Sidrap, Henra Setiawan Maksidatung.

Mulai 3 Juli hingga 7 Juli 2019, pria yang juga aktif sebagai guru seni budaya SMPN 1 Tellu Limpoe Sidrap itu, mengisi peran pada pementasan “I La Galigo” di Teater Ciputra Artpreneur Jakarta. Ikut andil di pementasan garapan sutradara teater dunia Robert Wilson Ini tidaklah mudah.

Harus melalui berbagai tahapan seleksi. Menurut, Henra, mereka merupakan pemeran generasi kedua.

“Alhamdulillah, saya sangat bangga diberi kesempatan di ajang seni sekelas ini,” ungkapnya. Pimpinan Sanggar Seni Pajoge Andino Sidrap inipun mengaku akan tampil semaksimal mungkin hingga even usai.

Selain itu dia menjadikan ajang ini sebagai pendalaman ilmu. Di sana, Henra dilatih oleh seniman ahli dan para profesional.

“Saya mendapat banyak ilmu baru dari beberapa pelatih seniman yang ahli. Semoga pemgalaman ini bisa ditularkan ke saya dan bisa saja pelajaran berharga untuk anak didik saya di Sidrap,” ujar Henra Setiawan.

Sekadar diketahui, tiket pementasan I La Galigo 2019 itu dihargai Rp475 ribu hingga Rp1,85 juta. Tiket dapat dibeli lewat laman situs resmi Ciputra Artpreneur.

Pertunjukan I La Galigo 2019 menyampaikan cerita tentang petualangan perjalanan, peperangan, kisah cinta terlarang, upacara pernikahan yang rumit, serta pengkhianatan dengan menarik Suku Bugis.

Sehingga selain berkelas dunia, pentas ini juga patut disaksikan sebagai pengetahuan akan legenda tentang budaya dari tanah Bugis. Pertunjukan ini berdurasi 2 jam 15 menit.

I La Galigo sebenarnya sebuah pementasan yang naskahnya diadaptasi dari ‘Sureq Galigo’, wiracarita tentang mitos penciptaan suku Bugis yang terabadikan lewat tradisi lisan dan naskah-naskah. Epos itu terekam dalam bentuk syair (sekitar abad ke-13 dan ke-15) dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno yang juga ditulis dalam huruf Bugis kuno.

Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima yang menceritakan kisah asal usul manusia. Kisahnya berpusat pada kehidupan Sawerigading yang jatuh cinta pada saudara kembarnya We Tenriabeng. Dewa-dewa dari Dunia Atas dan Bawah mengirimkan putra-putrinya untuk mendatangkan kehidupan di Dunia Tengah. Mereka menikah dan menjadi penguasa Kerajaan Luwuq.

Sejumlah sepupu dan pelayan mengikuti mereka. Dewi Beras membawa kesuburan kepada tanah dan rakyatnya. Semua perempuan melahirkan kecuali Sang Ratu.

Pada suatu hari, Ratu melahirkan sepasang Kembar Emas dampit. Sawerigading, ditakdirkan menjadi raja ksatria hebat, lahir dengan senjata lengkap. We Tenriabeng, ditakdirkan menjadi seorang pendeta Bissu perempuan, lahir penuh dengan tanda-tanda kebesaran.

Seorang peramal memperingatkan: “Kedua anak tersebut ditakdirkan untuk jatuh cinta. Pernikahan antar saudara akan menghancurkan kerajaan ini. Mereka bisa memiliki apa saja di dunia ini kecuali saling memiliki.”

We Tenriabeng dibesarkan dalam suatu ruang samping rahasia istana itu. Sawerigading diperintahkan melaut menjelajah dunia. Setelah banyak petualangan dan suatu upaya sia-sia untuk memenangkan cinta gadis cantik di Pulau Kematian, Sawerigading diberi tahu bahwa gadis tercantik di dunia adalah saudari kembarnya dan tinggal di istananya sendiri.

Dengan penuh semangat ia pun berangkat untuk menemukan saudarinya itu. Ia diam-diam memasuki kamar We Tenriabeng. Terpesona oleh kecantikannya, ia pun langsung menyatakan cinta. Meski Tenriabeng sendiri terpesona, tapi dia tahu bahwa pemuda itu saudara kembarnya dan memahami kutukan perkawinan antarsaudara.

Singkat kisah, karena terjebak dalam cinta terlarang yang dapat membawa petaka, Sawerigading akhirnya menikahi seorang putri cantik dari Cina bernama We Cudaiq dalam kebingungan dan keputusasaan.

Namun, perjalanan itu juga tak mudah bagi Sawerigading. Konflik lain ikut berdatangan.

Pertunjukan I La Galigo yang berada di bawah arahan sutradara teater dari Amerika, Robert Wilson, ini pernah berkelana di pentas-pentas kelas dunia seperti di Singapura, New York, Amsterdam, Barcelona, Perancis, dan Milan, dan akhirnya kembali ke Indonesia, pertunjukannya cukup memukau.