Nanda Pariwusi, Penyanyi “Tari Kolosal” yang Ikut Menari di HUT Sidrap

oleh

PANGKAJENE – Penampilan tari kolosal pada puncak HUT Sidenreng Rappang ke-675 di Lapangan SKPD mendapat banyak pujian, Senin 18 Februari 2019. Ratusan pelajar dan mahasiswa ikut melenggak lenggok dan memukau di hadapan penonton.

Tak terkecuali Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah dan Bupati Sidrap Dollah Mando ikut terkesima menikmati. Latar musik tari kolosal ini dibuat lebih modern dan menghentak.

Lagu Bugis berjudul Tanaku Sidenreng Rappang tersebut ternyata merupakan karya asli dari Sidrap. Penyanyinya adalah Rizki Aulia Ananda Pariwusi.

BACA JUGA:  Malam Ini, Kesenian Sidrap Tampil di "5th River Festival Cambodia"

Pada peringatan Hari Jadi Sidrap 2019 ini, Nanda, sapaan akrabnya, juga ambil bagian di tari kolosal. Dia terlihat ikut menari dan berbaur di antara ratusan penari.

“Alhamdulillah, sangat bersyukur karya jadi latar. Saya bangga lagu saya sejak kecil bisa bermanfaat, dan berguna untuk wanuakku,” ujar Nanda, usai acara Senin sore. Bakat menyanyi dan menari digeluti Nanda sejak masih kecil.

Lewat bimbingan orang tuanya, Jubir Pariwusi, Nanda telah menorehkan banyak prestasi di acara festival. Termasuk melepas single lagu daerah sejak bangku sekolah dasar.

BACA JUGA:  Ditimpa Baliho, Peserta Lomba Sidrap Ini Tetap Menari

Lagu Tanaku Sidenreng Rappang mulai dirilis oleh Nanda saat sekolah dasar. Kemudian diaransemen ulang saat SMA dan terakhir untuk latar tari kolosal HUT Sidrap 2019.

“Saat SMA diaransemen ulang jadi suara dewasa. Lalu untuk HUT Sidrap di aransemen lagi biar agak remix lagunya,” ungkapnya. Pemilihan lagu itu ditentukan oleh pihak Sanggar Pajoge, Hendra Maksidatung dan Miftahul Jannah Abbas.

BACA JUGA:  Ditimpa Baliho, Peserta Lomba Sidrap Ini Tetap Menari

Sebelum lagu Tanaku Sidenreng Rappang terpilih, ada beberapa alternatif lain. “Owner Sanggar Pajoge Bau Surga bilang lebih cocok laguku Tanaku Sidenreng Rappang. Tapi musiknya lebih diremixkan lagi biar makin wow dan cetar penampilan,” terangnya lagi.

Setelah itu Nanda merampungkan rekaman “kebutan” di studio sederhana Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidrap. “Bangga sekali bisa rekaman kembali. Apalagi dengan cara bernynyi yang berbeda dari sebelumnya,” tutupnya.