Pemprov Sulteng Bantah Usir Relawan BPBD di Kantor Bappeda

oleh

PALU – Dugaan pengusiran relawan dibantah keras pihak Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Palu. Menurut Pemprov Sulteng, para relawan diminta untuk pindah lokasi posko.

Hal itu diungkap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho Kamis 10 Oktober 2018. Menurut Sutopo, Kepala Bappeda Kota Palu tidak pernah mengusir relawan-relawan BPBD agar pindah ke tempat lain karena alasan telah terjadi kehilangan laptop di kantornya.

“Saya telah mengonfirmasi hal itu kepada beberapa pihak. Ternyata bukan diusir tetapi direlokasi atau dipindahkan ke halaman Kantor BPBD,” kata Sutopo melalui keterangan tertulis (Press Release), Rabu (10/10).

BACA JUGA:  Termakan Isu Tsunami, Warga Parepare Ini Mengungsi ke Sidrap

Halaman kantor Bappeda dibersihkan untuk apel ASN (Aparatur Sipil Negara). Menurut dia, beberapa relawan mendirikan tenda di halaman Kantor Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) setelah gempa. Pada H+2 (30/9) kondisi keamanan dan lingkungan di Kota Palu terbilang rawan.

Menurut Sutopo, justru kehadiran relawan sejak H+3 (1/10) dengan mendirikan tenda-tenda relawan BPBD dan lainnya ikut menjaga lingkungan kantor Bappeda dari aksi oknum yang melakukan tindakan kriminal.

BACA JUGA:  112 Kendaraan Relawan Enrekang ke Sulteng, Warganet: Masya Allah

“Pascagempa kondisi kantor kosong karena pegawainya tidak masuk kantor,” tutur Sutopo. Kepala Bappeda Palu sudah melapor ke Gubernur dan menjelaskan tentang kehilangan aset kantor. Atas kejadian itu, diambil keputusan untuk mengosongkan halaman halaman Kantor Bappeda.

Gubernur meminta Kepala BPBD Sulteng untuk mengatur dan merelokasi semua relawan-relawan BPBD yang ada di kantor Bappeda agar direlokasi ke kantor BPBD Provinsi Sulteng karena kantor Bappeda akan dipakai para ASN yang sudah mulai aktif sejak Senin (8/10).

BACA JUGA:  GMP Sidrap Aksi Kemanusian untuk Korban Gempa Sulteng

“Kantor Bappeda akan dibersihkan dan dirapikan lagi karena dampak gempa belum di bersihkan dan lainnya. Selain itu sejak ASN aktif maka semua ASN Bappeda harus apel dan masuk kerja. Tentu kegiatan mereka akan mengganggu kenyamanan relawan,” pungkas Sutopo.

Sutopo menekankan fakta yang terjadi di lapangan adalah pengaturan dan relokasi tempat tenda relawan saja, bukan pengusiaran. Sutopo mengakui adanya miss communication dalam penyampaian informasi sering terjadi di tempat bencana karena kondisi sudah lelah, kurang istirahat dan banyak keterbatasan.