Imam Shamsi Ali: Isu Radikalisme yang (Jangan) Kabur

oleh

Tendensi radikalisme agama misalnya seringkali menjadi “obstacle” (sandungan) bagi jalan dakwah kami di Amerika. Mereka yang radikal ini hobinya mencari-cari “ketidak sempurnaan” sesama. Saya misalnya menjadi target karena komitmen saya membangun dialog-dialog antar pemeluk semua agama-agama.

Masalahnya kemudian adalah ketika isu radikalisme yang dilemparkan itu adalah isu kabur. Isu yang tidak jelas defenisi dan batas-batasannya. Seolah hanya sebuah pelemparan batu sembunyi tangan.

Radikalisme itu sebuah pandangan (ideologi) dan karakter (prilaku) hidup yang cenderung melewati batas-batas (huduud) normal dan hukum. Keberadaannya selalu ingin lebih, dan yang lain kurang.

Pandangan dan prilaku seperti ini dapat menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Maka radikalisme bisa dalam bentuk cara pandang ekonomi. Ketika sistim ekonomi melampaui batas-batas kebutuhan pribadi atau publik, dan cenderung saling mengorbankan, Itulah radikalisme dalam perekonomian. Maka baik kapitalisme maupun sosialisme adalah dua bentuk radikalisme dalam perekonomian.

Radikalisme juga bisa terjadi dalam bentuk cara pandang dan prilaku politik. Ketika sebuah cara pandang dan prilaku politik menjadi tuhan dan suci, dengan melihat pandangan dan pilihan politik lain salah bahkan ancaman itu adalah radikalisme dalam perpolitikan. Dukungan buta atau kebencian tiada batas dalam dukungan politik merupakan bentuk radikalisme politik itu sendiri.

Demikian pula aspek lain dari kehidupan manusia. Radikalisme beragama terjadi ketika seseorang berada pada pandangan keagamaan yang absolut. Saya mengatakan pandangan. Bukan pada agamanya. Tapi pandangannya.