Beritasidrap.com – Bayangan pulang ke rumah setelah berminggu-minggu mengungsi berubah menjadi kenyataan pahit bagi warga Desa Dayah Husen Meurah, Kabupaten Pidie Jaya.
Alih-alih kembali menemukan ruang aman dan nyaman, mereka justru dihadapkan pada rumah yang nyaris tak lagi bisa disebut tempat tinggal.
Banjir bandang yang melanda wilayah ini meninggalkan warisan kelam berupa lumpur tebal yang mengeras dan menimbun lantai rumah hingga setengah bangunan.
Material sedimen yang terbawa arus sejak akhir November itu kini berubah menjadi “lantai baru” yang membuat rumah-rumah warga menyempit secara drastis.
Kondisi memilukan ini terekam dalam sebuah video yang diunggah akun TikTok @FajriCastro pada Selasa, 23 Desember 2025.
Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas bagaimana warga harus menundukkan tubuh sedalam-dalamnya hanya untuk bisa melangkah masuk ke rumah mereka sendiri.
“Ini salah satu rumah warga di Dayah Husen Meurah,” ucap perekam video sambil memperlihatkan bangunan yang nyaris tak lagi memiliki ruang tegak untuk manusia berdiri.
Lumpur yang awalnya basah dan menutup pemukiman secara perlahan mengering, namun bukan berarti masalah selesai.
Justru sebaliknya, endapan lumpur yang telah mengeras membuat proses pembersihan nyaris mustahil dilakukan secara mandiri oleh warga.
“Dari tanggal 26 November sampai 20 Desember, lumpurnya sudah kering,” lanjutnya, menggambarkan bagaimana waktu justru memperparah keadaan.
Ironisnya, meski rumah mereka tidak lagi layak secara fungsional, banyak warga memilih kembali dari posko pengungsian. Bukan karena kondisi sudah membaik, melainkan karena keterbatasan pilihan hidup.
“Warga yang dari pengungsian sudah memilih kembali ke rumah karena lumpur sudah kering,” katanya.
Kini, rumah-rumah yang dulu menjadi tempat berteduh dan berkumpul keluarga berubah menjadi ruang sempit yang memaksa penghuninya terus menunduk.
Setiap aktivitas dilakukan dengan tubuh membungkuk, seolah menjadi simbol nyata beban hidup yang harus mereka pikul pascabencana.
Tidak ada renovasi, tidak ada alat berat, dan belum ada kepastian bantuan pembersihan besar-besaran.
Yang tersisa hanyalah ketabahan dan kemampuan warga untuk beradaptasi dengan kondisi yang jauh dari kata manusiawi.
Rumah mungkin masih berdiri, tetapi bagi warga Dayah Husen Meurah, makna “pulang” kini terasa sangat berbeda.
Mereka bertahan bukan karena kuat, melainkan karena tidak memiliki pilihan lain. ***
