Beritasidrap.com – Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, masih mengalami keterisolasian hampir sebulan setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah Sumatera pada akhir November 2025.
Akses utama menuju desa tersebut terputus akibat jembatan hanyut terbawa arus.
Kondisi Desa Sekumur terungkap dalam unggahan video Marlina Usman, istri Gubernur Aceh Muzakir Manaf, melalui akun Instagram @marlinaausman pada Minggu, 21 Desember 2025.
Dalam unggahan tersebut, Marlina menggambarkan dampak banjir yang menghancurkan permukiman warga.
“Semuanya hancur luluh lantak, tak tersisa apapun yang bisa mereka gunakan untuk membangun lagi rumah mereka,” tulisnya.
Jembatan penghubung menuju Desa Sekumur dilaporkan putus total akibat banjir.
Akibatnya, warga dan relawan hanya dapat mencapai lokasi dengan menggunakan perahu nelayan menyeberangi sungai.
“Akses menuju kampung Sekumur ini harus menggunakan perahu karena jembatan yang biasa mereka gunakan sudah terbawa arus. Dari kota Tamiang, kami menempuh perjalanan 2 jam untuk tiba di sini,” lanjutnya.
Kerusakan rumah warga menyebabkan penduduk terpaksa tinggal di posko pengungsian darurat yang dibangun secara swadaya.
Namun, fasilitas di lokasi pengungsian dinilai masih sangat terbatas.
“Dari sungai, jarak tenda yang didirikan oleh swadaya masyarakat sekitar 800 meter dengan jalan yang masih berlumpur. Kini mereka sangat membutuhkan tenda yang layak, penampungan dan penyaringan air bersih, genset dan lampu penerangan serta perlengkapan sarana ibadah,” terang Marlina.
Ia juga menyebut seluruh rumah warga telah rusak dan tidak dapat ditempati.
“Semua rumah di sini lenyap, hanya menggunakan terpal, warga di sini bahu-membahu mendirikan tempat tinggal sementara,” imbuhnya.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan, terdapat sekitar 260 kepala keluarga dengan total 1.200 jiwa yang terdampak di Desa Sekumur.
Seorang warga menyampaikan bahwa bantuan logistik untuk kebutuhan sehari-hari relatif mencukupi, namun perlengkapan ibadah masih sangat dibutuhkan, terutama menjelang bulan puasa.
“Alhamdulillah ada donasi masyarakat, dari luar sana ada bantuan. Misal sembako, Alhamdulillah udah aman,” kata salah satu warga setempat.
“Yang jelas, yang tercepat alat sarana ibadah, Bu. Kebetulan puasa udah nggak lama lagi, selain itu akses jalan, Bu,” lanjutnya.
Selain kebutuhan ibadah, anak-anak di pengungsian juga menyampaikan permintaan perlengkapan sekolah.
“Minta sepatu sama baju sekolah terus peralatan sekolah. Itu juga sama Al-Quran karena pada hanyut,” ungkap seorang anak.
Warga juga menyoroti belum adanya alat berat untuk membersihkan puing kayu sisa banjir yang menumpuk di kawasan permukiman.
“Coba lihat ini, darimana ini dimulai, udah 22 hari belum ada apa-apa. Satu beko (alat berat) pun nggak ada,” ujar Marlina Usman.
“Tidak ada satu pun rumah warga yang tersisa, semua dihantam kayu-kayu yang terbawa oleh derasnya arus air,” sambungnya.
Dalam video tersebut, terlihat warga memanfaatkan tumpukan kayu sebagai jalur akses sementara di tengah keterbatasan sarana pascabencana. ***
